Cinta, Kapan Kau Datang Menemaniku ?

Kenapa kuterima cintanya untukku ? Tidakkah aku melihat sikapnya kepadaku sejak sebelum menikah ? Namanya Arif, dia menyatakan cinta kepadaku begitu dia tau aku bukan milik siapa-siapa

Cinta di Ujung Jari

Aku mengenal Doddy berawal melalui sebuah situs perkenalan Facebook, sebuah situs perkenalan di dunia maya yang sedang booming..

Sebuah Cinta Semu

Jam tiga dini hari aku dikejutkan oleh sebuah SMS misterius."Jangan rebut Riza ya ! Riza itu pacar aku, ngerti !"

Bimbang tiada bertepi

Sudah enam bulan ini ada janin yang sedang tumbuh dalam rahimku. Selama itu pula kuselami penyesalan yang tiada pernah berakhir.

Sebongkah Maaf yang Terabaikan

"Oh Tuhan, aku benar-benar menyesal, aku benar-benar malu" dengan suara serak dan parau selalu terucap samar-samar dalam kata-kata di akhir hayat suamiku

Sunday, December 1, 2019

Cinta di Ujung Jari

Aku mengenal Doddy berawal melalui sebuah situs perkenalan Facebook, sebuah situs perkenalan di dunia maya yang sedang booming di se-antero dunia saat ini. Waktu itu kusangka ia teman satu SMA aku, karena ketiga yang menjadi temannya kuketahui adalah teman SMAku. Aku mengetahuinya ketika ia menanyakan dimana aku bekerja dan dimana aku tinggal, sontak aku langsung mencari profile lengkap mengenai jati dirinya. Ternyata ia bukan teman SMA ku dulu.




Wednesday, August 15, 2018

Sebuah Cinta Semu

Jam tiga dini hari aku dikejutkan oleh sebuah SMS misterius."Jangan rebut Riza ya ! Riza itu pacar aku, ngerti !" "Dari siapa sich ini ? Ganggu orang lagi tidur aja !" aku merasa kesal dengan datangnya SMS ini, kenapa tidak siang-siang aja dia mengirim SMS ini.

Lagi pula, jarang sekali kami berbicara mengingat dia beda kelas denganku. Dan di sekolah, aku sama sekali belum tertarik untuk merajut sebuah hubungan kasih dengan seseorang. Aku melanjutkan tidurku tanpa membalas kembali SMS itu, mungkin salah kirim SMS, pikirku.


Saturday, April 21, 2018

Kerinduanku di Tanah Papua

Di tanah papua yang hijau ini, aku menginjakkan kaki tuk pertama kali. Bukan sebuah kota yang lengkap, tapi sebuah daerah yang masih belum terjangkau oleh dunia. Bekerja dalam rangka mencari nafkah tuk menghidupi keluargaku nun jauh di tanah jawa. Saat aku di sini selalu saja ruang batinku terlukis indah senyuman istri dan ketiga anakku yang mana Si sulung sedang beranjak kelas 1 SD, sedang Si bungsu Nayla, perempuan satu-satunya yang hadir dari penantian kedua kakaknya yang laki-laki baru berusia 1 tahun.

Wednesday, August 19, 2009

Bimbang Tiada Bertepi

Kumpulan Cerpen Siti Arofah . Sudah enam bulan ini ada janin yang sedang tumbuh dalam rahimku. Selama itu pula kuselami penyesalan yang tiada pernah berakhir. Penyesalan yang teramat sangat kusesali. Kebodohan itu harusnya tak boleh terjadi. Tapi nyatanya kala itu aku tengah mabuk dalam angan-angan cinta yang nampak indah bagai bunga-bunga yang bertaburan di taman mengeluarkan wangi semerbak penggoda jiwa.

Aku benar-benar tergoda oleh janji - janji manis kekasihku.

Dulu, sebagai kekasih, Rezzy penuh perhatian padaku, seperti pasangan lainnya Rezzy tampak menyayangi aku sepenuh hati. Mungkin ia lihai menundukkan hatiku, buktinya aku sampai benar-benar jatuh hati padanya. Apapun kebutuhanku atau permintaanku ia penuhi. Ia selalu tau apa yang aku mau. Jika aku sakit, aku selalu diantarnya ke dokter yang praktek dekat tempat kost-ku. Waktu itu aku masih kuliah, sedang Rezzy mengaku bekerja di sebuah perusahaan ternama sebagai Manager. Kami sama-sama tinggal di tempat kost yang berbeda dan agak berjauhan. Karena kami sering bertemu di halte yang sama untuk naik angkutan umum, akhirnya kami berkenalan. Namun akhirnya perkenalan itu membawa kami jatuh ke dalam jurang yang nista yang seharusnya tak aku lakukan. Bodohnya aku yang mudah tergiur akan bujuk rayu Rezzy yang licik !

Tak pernah kubayangkan jika saat ini yang kudapat hanya duka dan air mata. Saat Rezzy mengetahui benihnya tumbuh dalam rahimku, ia tak pernah menemuiku lagi. Tak pernah kusangka jika ternyata Rezzy yang kukenal sebagai kesatria belahan jiwaku itu kini menjadi seorang pengecut. Begitu lelah aku mencarinya. Seakan jejaknya hilang ditelan bumi. Aku semakin bingung untuk mencarinya. Emosiku seakan meluap tapi tak ada nyali untuk kutumpahkan. Hanya bulir-bulir air mata sebagai teman penghibur hati, pelepas emosi.

Ingin sekali rasanya aku pulang ke rumah orang tuaku, tapi tak kuasa kaki ini melangkah. Aku takut Mama akan shock jika tau aku kini telah berbadan dua. Penyakit jantung yang dideritanya tak boleh mendengar kabar yang menyedihkan. Terlebih Papa yang sangat keras terhadap anak-anaknya. Pastilah aku akan dimarahi habis-habisan oleh Papa. Atau mungkin Papa tidak akan mengakui aku lagi sebagai anaknya.

Kuliahku yang sejatinya tahun ini bisa kurampungkan, akhirnya kukorbankan. Aku malu akan kondisi perutku yang kian hari semakin membesar, padahal statusku belum menikah. Pastilah akan ada banyak cemohan dari teman-teman di kampusku nanti bila mereka sampai tahu kondisiku saat ini. Pun dengan dosenku, Apa jawabanku, jika Sang Dosen bertanya akan janin yang sedang kukandung ini ? Aku diselimuti ketakutan yang teramat sangat menyiksa batinku. Dan ketakutan ini membuat aku ingin sekali bertemu pada Rezzy untuk memukulnya sekuat tenaga dan meminta pertanggung jawabannya. Lagi-lagi aku hanya mampu mengubur emosi dalam lamunan kesendirianku.

Anehnya, Rezzy benar-benar sulit untuk dicari. Omongannya ternyata bual belaka. Saat kutanyakan dirinya di kantor yang pernah dia sebutkan, ternyata tak satupun ada yang mengenal dirinya. Dan perusahaan itu meyakini diriku bahwa tak pernah ada karyawan yang bernama Rezzy Dwianza. Ini kuketahui setelah kutanyakan pada bagian personalia dari kantor itu. "Ah,.... kenapa aku bodoh bisa dikelabui oleh laki-laki tak bermoral itu !"

"Rezzy, dimanakah kamu berada ? Aku membutuhkan mu ?" berulang kali kukatakan pada sebuah foto yang pernah aku miliki sebagai kenangan kala masa-masa indah dulu bersamanya. Entahlah, apakah esok suatu hari aku bisa bertemu dengannya atau tidak ? Apakah sang ayah dari bayiku ini mau mengakui sebagai ayahnya ? Aku menunggu waktu, tak tau nasib apa yang akan terjadi nanti pada diriku. Yang aku tatap hanya bayang-bayang kelabu menghantui kehidupanku nanti, sebab sekarang diriku sudah tak berarti lagi.


Saturday, August 15, 2009

Gila Facebook

Siapa yang tidak tau akan Facebook ? Facebook rupanya sedang booming di jagad ini. Bagaimana tidak, bila kita menemui seorang teman lama atau mendapat kenalan baru, mereka tak pernah lupa menanyakan kepada kita "punya account facebook ga' ?". Kadang juga aku pernah menjumpai seseorang yang belum punya account facebook, hingga tiba-tiba aku meledeknya, "Hari gini.... ga' punya facebook ?" Jadilah kita pada akhirnya seperti terseret untuk mempunyai sebuah account di facebook.